Membangun Peradaban Indonesia dengan Internet Sehat

11 Nov 2010

Pagi hari ini saya medengar suara seorang ibu yang sedang memaki-maki internet.

Ibu : Huh, apa-apaan sih! Sekarang masih jam 9 pagi, pelajaran SD baru saja dimulai. Kenapa warnet sudah dibuka!!! Anak saya memilih pergi ke warnet daripada ke sekolah. Emang ini semua gara-gara internet, tetap saja anak saya menggunakan uang saya untuk berinternet!

Saya yang masih bermalas-malasan tertidur, secara spontan langsung terbangun. Buset deh, si ibu bener-bener perhatian nih ke anaknya pikir saya. Lalu pikiran saya tidak berhenti sampai di situ, muncullah pertanyaan-pertanyaan di benak saya, Siapa ya yang harus disalahkan dalam hal ini? apakah salah si penjaga warnet yang sudah membuka warnetnya di pagi-pagi? atau salah guru sekolah yang membiarkan muridnya bolos? atau salah orangtuanya kah yang kurang dalam mendidik si anak di rumah? atau mungkin kah ini semua salah pemerintah yang kurang tegas memberikan peraturan? Lho kok ke pemerintah ya,, :D

Sebelum saya membahas ini lebih lanjut, mari kita kenalan dulu dengan yang namanya internet. Secara sederhana (versi saya) Internet dapat diartikan sebagai kumpulan seluruh berita dari jagat raya. Jadi melalui internet ini setiap orang dapat mengetahui berbagai informasi yang telah disediakan internet di mana pun ia berada. Begitu mudahnya, sehingga internet sudah menjamur dengan cepat ke berbagai lapisan masyarakat di dunia.

Apa saja yang bisa dilakukan di internet? Di tahun 2010 ini internet sudah sangat multifungsional, yang artinya internet sudah mampu melakukan banyak hal, semisal : kirim surat (email), mencari lowongan kerja (google), chating, update status , cari-cari gambar, game online, nonto video, menulis (blog), transaksi jual-beli, membuat forum, melihat peta, dan masih banyak lagi.

Kata orang hidup ini berpasang-pasangan, laki-laki:perempuan, bumi:langit, panas:dingin, dan ada juga Baik:Buruk. Begitu juga dengan internet, seluruh informasi yang ada di dalamnya tidak semuanya baik dan tidak semuanya buruk. Kedua hal itulah yang menjadi pro-kontra selama ini.

Mari kita pandang buruknya. Di internet sudah banyak menyebar film-film porno, cerita porno, gambar porno, game online, informasi palsu, spam, dll. Terutama dalam hal porno, ini sangatlah rawan bagi para remaja yang memang memiliki libido tinggi untuk melakukan sex. Juga game online, tidak sedikit laporan maraknya anak dibawah umur yang kecanduan game online.

Di sisi lain, internet sangat memegang peranan penting dalam sebuah kemajuan Teknologi Infromasi. Bayangkan saja, kita cukup mengetikkan sebuah kata kunci untuk mencari informasi tentang kata itu (google). Selain itu Pemerintah (Nasional ataupun Regional) sudah menggunakan media online sebagai pusat informasi layanan masyarakat. Sekolah memakai dunia maya untuk menyebarkan Hand Out mata pelajaran. Perguruan Tinggi memafaatkan internet untuk pendaftaran mahasiswa baru. Internet juga digunakan para pedagang untuk memasarkan produknya. Begitu kompleksnya internet sehingga dapat berguna untuk berbagai hal. Inilah fungsi sebenarnya dari internet (Baca : Internet Sehat), sebuah media online untuk memudahkan penyampaian informasi.

Internet Sehat seperti ini perlu dikembangkan dalam berbagai aspek, seperti : Pemerintah, Pendidikan, LSM, Ekonomi, Pariwisata, Transportasi, dll. Transportasi misalnya, dengan menggunakan media online tentunya kita bisa memesan tiket pesawat dari jarak jauh. Dengan membiasakan diri menggunakan Internet Sehat, maka lambat laun hal ini akan menjadi Budaya. Budaya yang memang baik untuk kemajuan sebuah negara.

Ketika budaya itu sudah menjamur ke setiap lapisan masyarakat dan lembaga, dimana mereka mengerti akan Internet Sehat dan tahu bagaimana menggunakannya, maka sudah barang tentu budaya itu akan menjadi sebuah Peradaban Negara. Jika Indonesia yang mengimplementasikan hal ini, maka Internet Sehat mampu membangun Peradaban Indonesia ke arah yang lebih baik.


TAGS blog indonesia Festival BLOG 2010 Internet Sehat Google Internet Festival Peradaban Budaya


-

Author

Follow Me